Sabtu, 22 Juni 2013

Socrates: Pertanyaan yang melahirkan kesadaran

 
A. Sejarah Panjang Tokoh Filsafat Socrates
          Kemunculan Aliran Sofi
Pada pertengahan abad ke-5 sebelum Masehi muncul aliran baru, yang disebut dengan Sofis.  Kata Sofis berarti arif, atau pandai. Arti ini berkaitan dengan orang yang pandai bicara, mempengaruhi orang dengan kepandaian berdebat. Kelahirannya berkenaan dengan perkembangan kota Athena yang luar biasa makmur dan menjalankan demokrasi secara bebas.
Protagoras, salah satu tokoh terkemuka aliran ini, menyatakan bahwa, Manusia adalah ukuran segalanya, jika manusia menggapnya demikian maka demikianlah adanya, dan jika tak demikian maka tak demikian pula. Maksudnya, “bahwa semuanya itu harus ditinjau dari pendirian manusia masing-masing. Kebenaran umum tidak ada. Pendapatku adalah hasil pandanganku sendiri. Apa pandanganku ini benar bagi orang lain, sukar dipastikan, boleh jadi tidak. Apa yang dikatakan baik boleh jadi, jahat bagi orang lain. Alamku adalah bagiku sendiri. Orang lain mempunyai alamnya sendiri pula.”[1]
Tokoh lainnya adalah Georgia (483-375) menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang ada, jika ada maka ia tak dapat diketahui, dan jika dapat diketahui sesuatu itu tidak dapat dikabarkan. Georgia menyatakan tegas bahwa segala pemikiran atau pendirian itu salah.
Protagoras yang menyatakan segala pendirian atau pemikiran bisa jadi benar, ia menganggap dirinya seorang skeptis, ia meragukan adanya kebenaran di dunia ini. Sedangkan Georgia menganggap dirinya seorang nihilis karena menyatakan dengan keras lagi bahwa kebanaran sudah tidak ada lagi.

Socrates (470 SM – 399 SM)
Di tengah kuatnya pengaruh kaum Sofis, muncullah seorang filsuf lain yang memberikan alternatif baru. Socrates namanya. Lahir di Athena tahun 470 SM dari pasangan Sophonisko-Phainarete, dan meninggal tahun 399 SM. Ia merupakan filsuf generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar. Ia menyebut dirinya filosof (pecinta kebijaksanaan). Ia setuju bahwa pada manusialah memiliki pengetahuan dan kemauan. Dalam pandangan Socrates, masyarakat Athena yang terperangkap dalam pandangan (nihilis Georgias dan skeptis Protagoras) pada saat itu mengarahkan hidupnya pada duniawi.
“Saya curahkan waktu saya dengan melakukan upaya membujuk kalian pemuda dan orang tua, agar kepedulian pertama dan utama kalian bukan demi raga ataupun harta kalian; melainkan demi kesejahteraan jiwa kalian…kekayaan tidak akan membawa kebaikan, tetapi kebaikan akan membawa kekayaan dan segala berkah lainnya, baik bagi individu maupun bagi Negara ”

Socrates mempercayai adanya  satu kebaikan yang bisa dimiliki oleh semua orang. Ia percaya bahwa manusia tak hanya memiliki raga saja tapi memiliki jiwa (eudaimonia = memiliki jiwa yang baik), yaitu inti dari manusia itu sendiri. Orang yang baik, yaitu memiliki jiwa yang bahagia.
Di tengah situasi kacau akibat pemikiran-pemikiran kaum Sofis yang hanya mencapai kata sepakat mengenai satu hal, untuk mengatasi kekacauan ini Sorates tampil di arena filsafat untuk menghadapi kaum Sofis. Metode yang dipakai Socrates untuk menghadapi kelihaian lidah para kaum Sofis ini dikenal dengan Dialektik-Kritis (dialog antara dua pendirian yang bertengtangan ataupun merupakan perkembangan pemikiran dengan memakai pertemuan “interplay” antar ide).
Dalam metode tersebut, Socrates selalu meminta penjelasan tentang sesuatu pengertian kepada orang yang dianggapnya ahli dalam bidang tersebut. Jadi, Socrates selalu menuntut kemampuan para ahli untuk mempertanggungjawabkan pengetahuannya dengan alasan yang benar dan apabila didukung dengan alasan yang benar, maka ide yang telah teruji tadi akan sebagai pengetahuan yang benar untuk sementara sebelum dilakukan pengujian lebih lanjut.   
Metode dialog yang digunakan Socrates bermula dari “induksi[2]  untuk menemukan definisi”. Socrates adalah filsuf sejati karena ia tak menjadikan filsafat sebagai teori-teori yang sulit dan membosankan. Dan sebenarnya Socrates tak pernah menuliskan buah pikirannya. Catatan itu berasal dari muridnya Plato. Plato dalam pidatonya selalu menggunakan nama gurunya sebagai tokoh utama dan sangat sulit memisahkan mana gagasan Socrates dan mana gagasan Plato yang disampaikan melalui mulut Socrates.
Lewat dialog Socrates tidak mengajarkan apa pun, ia menolong mengeluarkan apa yang tersimpan dalam jiwa orang yang selama ini terkubur oleh pengetahuan yang salah. Salah satu pengetahuan yang salah itu adalah seseorang yang telah merasa tahu banyak tentang semua urusan hidup, merasa ahli. Sikap inilah membuat orang menganggap remeh pada gejala-gejala kehidupan yang dialami sehari-hari, yang kemudian akam membuatnya gagal dalam menjalani kehidupan.
Socrates dalam Apology, menyebutkan bahwa peningkatan / kecenderungan jiwa, kepedulian terhadap kebijaksanaan dan kebenaran merupakan kebajikan tertinggi. Sehingga dapat digambarkan seperti ini,

“ Tak ada yang melakukan kejahatan secara sukarela. Jika anda benar-benar paham hal baik maka anda pasti akan melakukannya. Jika anda benar-benar memiliki penilaian yang lebih baik dari yang anda gunakan, maka anda pasti akan bertindak berdasar padanya, bukannya berlawanan.”

Dalam hal lain Socrates menyatakan “saya tahu bahwa saya tidak tau apa-apa” dan ia menyatakan bahwa ia tidak akan menyampaikan kesimpulan-kesimpulan yang pasti. Ia hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada diri dan orang lain, sehingga secara bersama-sama mencari jawabannya.
Pada diri Socrates kita dapat belajar mengenai satu hal : bahwa berfilsafat pada awalnya harus bermula pada diri sendiri. ”Hidup yang tidak dipertanyakan adalah hidup yang tak layak untuk dijalani ,”
Ia mengajak kita untuk tidak sekedar menempat, seperti botol di kotak minuman. Manusia bukan botol, ia memiliki jiwa yang menyimpan peta menuju kebahagiaan. Namun kita seringkali seperti botol, terjebak dalam kebiasaan-kebiasaan yang tak pernah disadari mengapa seperti itu.
Misalnya kita setiap hari sering diperbudak oleh rasa iri, marah, cemburu, takut, malu, atau sedih. Karena semua orang juga mengalami hal yang sama,kita jadi tak peduli pada situasi itu. Akhirnya kita terus menerus berada dalam lingkaran kemarahan yang sama. Ingat “kebaikan/kebahagiaan adalah pengetahuan,” jadi kita bisa mendapatkan pengetahuan yang akan mengarahkan kita pada hidup baik.
Dari peryataan itu kita belajar pada Socrates yang telah menemukan cara berfilsafat yang mudah untuk kita lakukan. Socrates menjadikan kehidupan sehari-hari sebagai dasar dan tujuan kegiatan berfilsafat bisa dipastikan semua orang juga bisa melakukannya.
Dalam buku Christopher Phillips[3], Socrates café, mengajak kita untuk mengaplikasikan kembali metode Socrates dalam kehidupan sehari-hari. Phillips menuliskan :
o       Metode Socrates bisa disebut sebagai metode elenchus, artinya  penyelidikan atau uji silang.
o       Dialog Socrates meminta kita untuk secara rela  memeriksa seluruh kebenaran yang selama ini kita yakini, juga segala hal-hal yang selama ini dianggap remeh.
o       Dialog Socrates menegaskan bahwa kearifan tidak bisa dilakukan sendirian. Dibutuhkan kawan dialog yang secara kritis terus memberikan pandangan lain dari dalam dirinya. Yang berbentuk hipotesis, keyakinan, dugaan atau teori-teori.
o       Dibutuhkan kejujuran dari semua peserta dialog, karena kejujuran akan mengatakan “saya tahu bahwa saya tidak tahu” atau “saya sadar bahwa keyakinanku bisa salah kaprah”. Kejujuran membuat kita berdialog dengan rendah hati.
Socrates dianggap filsuf sejati karena Ia rela dihukum mati ketimbang berhenti berfilsafat.


Cara Berflsafat Socrates :
o       Berfilsafat bukan masalah teoritis, Cara Socrates membolehkan kita untuk tidak berteori, Karena teori tidak akan membuat kita terhubung dengan realitas. Justru dengan berdasar pada pengalaman kita dapat arti hidup yang selama ini kita telah anggap selesai.
o       Komitmen untuk saling menghargai, tanpa meremehkan pendapat orang lain. Dengan begitu kita jadi menemukan betapa pemahaman kita tidak bisa otomatis jadi berlaku bagi semua orang.
o       Berbicara dan mendengarkan pembicaraan orang lain menerbitkan rasa syukur terhadap apa yang kita alami dan rasakan.
o       Hakikat kepercayaan adala keraguan, hakikat realitas adalah mempertanyakan. Dengan meragukan kepercayaan kita , kepercayaan itu akan menemukan kekentalannya. Begitu juga realitas.  


DAFTAR PUSTAKA

Lavine, Z., 2002. Petualangan Filsafat dari Socrates ke Sertre. Penerbit Jendela : Yogyakarta.
Syadali, Ahmad. 1997. Filsafat Umum. CV. Pustaka Setia : Bandung.
Phillips, Christoper,.  2002. Socrates Café. Gramedia : Jakarta.
Q-Anees, Bambang,. 2003. Filsafat Untuk Umum. Prenada Media : Jakarta.
Hatta, Muhammad,. 1964.  Sejarah Filsafat Yunani. Djambatan : Jakarta.



[1] Muhammad Hatta, Sejarah Filsafat Yunani, 1964, Djambatan,hal. 64
[2] Induksi menurut Socrates adalah memperbandingkan secara kritis.
[3] Phillips, Christoper,.  2002. Socrates Café. Gramedia : Jakarta.