Jumat, 21 Juni 2013

Proses Perkembangan Pola Pikir Manusia



PEMBAHASAN

Proses Perkembangan Pola Pikir Manusia
Adanya perkembangan pola pikir manusia dimulai dari zaman Babylonia ( kurang lebih 650 SM ) dimana orang percaya kepada mitos, ramalan nasib berdasarkan perbintangan, bahkan percaya adanya banyak dewa. Pengetahuan itu mereka peroleh dengan berbagai cara antara lain :
1.    Prasangka
2.    Intuisi
3.    Trial and error 
 Pengetahuan pada manusia yang diperoleh melalui cara ini banyak sekali, yaitu sejak zaman manusia purba sampai sekarang. Banyak pula penemuan hasil coba-coba sangat bermanfaat bagi manusia, misalnya: ditemukannya redaman kulit kina untuk obat penyakit malaria. Penemuan dengan cara coba-coba ini jelas sangat tidak efisien untuk cara menemukan suatu kebenaran. [1]
Perkembangan pola pikir manusia ini dari zaman ke zaman terus berubah bahkan bertambah, karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya :

A.       Rasa ingin Tahu
Add caption
          Ilmu pengetahuan alam bermula dari rasa ingin tahu, yang merupakan suatu ciri khas manusia. Rasa ingin tahu tidak dimiliki oleh makhluk lain, seperti batu, air, dan udara. Air dan udara memang bergerak dari satu tempat ketempat lain, namun pergerakannya bukan atas kehendak mereka sendiri, tetapi akibat dari pengaruh ilmiah yang bersifat kekal. Manusia sebagai makhluk berpikir dibekali hasrat rasa ingin tahu, tentang benda dan peristiwa yang terjadi di alam sekitarnya,  termasuk juga ingin tahu dirinya sendiri.  Kelebihan manusia itu karena memiliki akal budi dan kemauan yang keras sehingga dapat mengendalikan tubuh jasmaninya.
          Rasa ingin tahu itu terus berkembang  dan seolah – olah tanpa batas yang meliputi kebutuhan – kebutuhan praktis untuk hidupnya sehari – hari seperti bercocok tanam atau membuat panah atau lembing yang lebih efektif untuk berburu.[2]
        Rasa ingin tahu mendorong manusia untuk melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mencari jawaban atas berbagai persoalan yang muncul dalam pikirannya. Kegiatan yang dilakukan manusia itu kadang-kadang kurang serasi dengan tujuannya. Sehingga tidak dapat menghasilkan pemecahan. Tetapi kegagalan biasanya tidak menimbulkan rasa putus asa, bahkan seringkali justru membangkitkan semangat yang lebih menyala-nyala untuk memecahkan persoalan. Dengan semangat yang makin berkobar ini diadakanlah kegiatan-kegiatan lain yang dianggap lebih serasi dan dapat diharapkan akan menghasilkan penyelesaian yang memuaskan.  Manusia tak akan pernah berhenti ataupun puas jika belum memperoleh jawaban mengenai apa yang diamatinya.
          Kemampuan berpikir manusia menyebabkan rasa ingin tahunya selalu berkembang. Dengan kemampuannya mengingat dan berpikir, manusia dapat mendayagunakan pengetahuannya yang terdahulu dan kemudian menggabungkan dengan pengetahuannya yang diperoleh hingga menghasilkan pengetahuan yang baru. [3]

B.       MITOS
         Rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat terpuaskan hanya atas dasar pengamatan ataupun pengalaman. Untuk itulah, manusia mereka-reka sendiri jawaban atas keingintahuannya itu. Sebagai contoh "Mengapa gunung meletus?", karena tak tahu jawabannya, manusia mereka-reka sendiri dengan jawaban: "Yang berkuasa dari gunung itu sedang marah". Dengan menggunakan jalan pemikiran yang sama munculah anggapan adanya "Yang kuasa didalam suatu benda" seperti di dalam hutan lebat, sungai yang besar, pohon yang besar, matahari, bulan, atau adanya raksasa yang menelan bulan pada saat gerhana bulan. Pengetahuan baru yang bermunculan dan kepercayaan itulah yang kita sebut dengan mitos.
Mitos itu timbul disebabkan antara lain karena keterbatasan alat indera manusia misalnya:
1.    Alat Penglihatan
Banyak benda-benda yang bergerak begitu cepat sehingga tak tampak jelas oleh mata. Demikian juga jika benda yang dilihat terlalu jauh, maka mata tak mampu melihatnya.
2.    Alat Pendengaran
Pendengaran manusia terbatas pada getaran yang mempunyai frekuensi dari 30 sampai 30.000 perdetik. Getaran di bawah 30 atau di atas 30.000 perdetik tak terdengar.
3.     Alat Pencium dan Pengecap
 Bau dan rasa tidak dapat memastikan benda yang dicecap maupun diciumnya . manusia hanya bisa membedakan 4 jenis masa yaitu rasa manis,asam ,asin dan pahit. Bau seperti farfum dan bau-bauan yang lain dapat dikenal oleh hidung kita. Melalui bau, manusia dapat membedakan satu benda dengan benda yang lain namun tidak semua orang bisa melakukannya.
4.    Alat Perasa
Alat perasa pada kulit manusia dapat membedakan panas atau dingin namun sangat relatif sehingga tidak bisa dipakai sebagai alat observasi yang tepat.
         Alat-alat indera tersebut di atas sangat berbeda-beda, di antara manusia: ada yang sangat tajam penglihatannya, ada yang tidak. Demikian juga ada yang tajam penciumannya ada yang lemah. Akibat dari keterbatasan alat indera kita maka mungkin timbul salah informasi, salah tafsir dan salah pemikiran. Untuk meningkatkan kecepatan dan ketepatan alat indera tersebut dapat juga orang dilatih untuk itu, namun tetap sangat tersbatas. Usaha-usaha lain adalah penciptaan alat. Meskipun alat yang dicipatakan ini masih mengalami kesalahan. Pengulangan pengamatan dengan berbagai cara dapat mengurangi kesalahan pengamatan tersebut. Jadi, mitos itu dapat diterima oleh masyarakat pada masa itu karena: Keterbatasan pengetahuan yang disebabkan karena keterbatasan penginderaan baik langsung maupun dengan alat.[4]
Terdapat 7 sumber kekuatan yang mempengaruhi proses berpikir manusia:
1.        Orang Tua, Dari orang tua lah kita belajar tentang kata-kata, gerakan tubuh, perilaku, norma, keyakinan agama, prinsip, dan nilai-nilai luhur. Orang Tua adalah tutor atau guru kita yang pertama di dunia, merekalah yang membentuk pola pikir kita untuk yang pertama kalinya.
2.     Keluarga, Setelah orang tua kita akan dikenalkan dengan dunia lain yaitu keluarga, dari merekalah kita akan menangkap informasi dan pola pikir yang lain, yang fungsinya untuk melengkapi pola pikir yang telah kita peroleh dari orang tua.
3.  Masyarakat, Dunia lain yang akan dikenal adalah lingkungan masyarakat sekitar, dengan semakin bertambahnya informasi dan disatukan dengan apa yang telah kita dapat akan membuat proses pembentukan pikiran kita menjadi semakin kuat.
4.  Sekolah, Sekolah mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam proses pembelajaran seseorang, peraturan-peraturan yang diterapkan sekolah maupun perilaku dan sikap guru dapat memperkaya proses pembentukan pola pikir yang sudah ada.
5.  Teman, Berteman merupakan aktualisasi diri yang pertama dalam kehidupan, karena dalam suatu pertemanan, kita yang menentukan pilihan akan berteman dengan siapa, tidak ada larangan dalam menentukan dengan siapa kita akan berteman.
6.    Media Massa, Adanya unsur pengidolaan pada suatu tontonan dapat menimbulkan peniruan-peniruan oleh seseorang baik itu yang sifatnya negatif maupun yang positif. Contohnya pola pakaian seorang artis akan ditiru oleh fans nya.
7.      Diri sendiri, Inilah faktor penentu dari suatu pola pikir, baik buruknya suatu pengaruh kitalah yang akan menentukan apakah kita akan menjadi pribadi yang buruk atau kita akan memilih menjadi pribadi yang baik.

C.     Tahapan Pemikiran Manusia.
Manusia membutuhkan beberapa komponen untuk dapat berfikir
diantaranya :
1.       Fakta. Manusia membutuhkan fakta yang akan dijadikan objek berfikirnya.
2.      Indera.Untuk dapat menyerap fakta-fakta yang akan dipikirkan. Seperti mata untuk dapat melihat, peraba, pendengaran, dan indera yang lainnya.
3.      Otak. Merupakan organ yang berfungsi untuk menterjemahkan setiap fakta yang diserap.
4.      Informasi sebelumnya. Tanpa informasi manusia tidak dapat untuk memahami fakta yang sedang dihadapinya.

 Menurut Auguste comte (1798-1857), dalam sejarah perkembangan jiwa manusia, baik sebagai individu maupun sebagai keseluruhan, berlangsung tiga tahap:
1. Tahap teologi atau fiktif
2. Tahap filsafat atau metafisik atau abstrak
3. Tahap positif atau ilmiah riel. [5]

Tingkatan berpikir pada manusia:
a.         Berpikir dangkal yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui proses berpikir yang hanya melihat sesuatu dan membuat kesimpulan tanpa disertai pemahaman. Pemikiran ini diperoleh dengan cara sekedar mengindera fakta dalam otak tanpa mengaitkannya dengan informasi sebelumnya.
b.        Berpikir mendalam yaitu upaya berpikir lebih mendalam untuk  memahami fakta dan mengaitkannya dengan informasi. Pemikiran ini dilakukan secara berulang-ulang untuk mencari informasi yang lebih banyak lagi.
c.         Berpikir cemerlang yaitu berpikir mendalam untuk mengkaji suatu obyek yang akan diteliti dan mengkaitkannya dengan fakta untuk bisa sampai pada keseimpulan yang benar.

Daftar pustaka

Sumbawi Ranu Pandoyo, Ilmu Alamiah Dasar, (Surabaya: Usaha Nasional, 1987), 16-17
Darmodjo, Hendro, 1985 Ilmu Alamiah Dasar, UT,
Purnama, Heri. 1997. Ilmu Alamiah Dasar, PT. Rineka Cipta,


[1] Sumbawi Ranu Pandoyo, Ilmu Alamiah Dasar, (Surabaya: Usaha Nasional, 1987), 16-17
[2] Drs. Hendro Darmodjo MA, Ilmu Alamiah Dasar, UT, 1985, 4
[3] Ir. Heri Purnama, Ilmu Alamiah Dasar, PT. Rineka Cipta, 1997, 9
[4]  Drs. Mawardi – Ir. Nur Hidayati, IAD-ISD-IBD, (Bandung: Pustaka Setia), 13-14