Rabu, 19 Juni 2013

Asbabun Nuzul



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Al-Qur’an, sebagaimana yang kita ketahui, telah diturunkan secara berangsur-angsur dalam berbagai kesempatan, sesuai dengan peristiwa dan masalah yang menimpa kaum muslimin. karenanya, demi menyelesaikan problematika tersebut satu atau beberapa ayat dan kadangkala satu surah diturunkan sangat jelas bahwa ayat-ayat yang diturunkan pada setiap kesempatan, berkaitan dan membahas peristiwa tersebut. Karena itu, jika terdapat ketidakjelasan / muncul masalah dalam lafadz / makna, maka untuk menyelesaikannya harus dengan cara mengidentifikasi latar belakang peristiwa yang terjadi.
Untuk mengetahui makna dan tafsir setiap ayat secara utuh, langkah yang harus ditempuh adalah melihat sebab turunnya setiap ayat agar memperoleh kejelasan yang sempurna. Jika tidak melihat sebab turunnya ayat, seringkali penafsiran ayat tidak memberikan penjelasan apapun. Sebab turunnya setiap ayat menjadi penjelas untuk menyempurnakan pemahaman akan makna ayat. Jadi dengan merujuk pada sebab turunnya (asbabun Nuzul) ayat tersebut, maka  sangat jelas maknanya.[1]
Asbabun Nuzul sangatlah sulit diketahui dan dipahami, karena para ulama tempo dulu tidak mencatat semua permasalahan yang menjadi pembahasan, kecuali hanya beberapa saja. Asbabun Nuzul dianggap sangat penting oleh para Ulama karena dapat memahami arti dan makna ayat – ayat itu dan akan menghilangkan keraguan – raguan dalam menafsirkannya.
Imam Wahidi berpendapat, bahwa untuk mengetahui tafsir suatu ayat al-Qur’an tidak mungkin bisa tanpa mengetahui latar belakang peristiwa dan kejadian diturunkannya.[2] 
Ibnu Daqiq al-led juga berpendapat, bahwa keterangan tentang peristiwa turunnya ayat merupakan jalan yang kuat dalam memahami arti dan makna al-Qur’an.

1.2  Rumusan Masalah
·        Apa pengertian dari Asbabun Nuzul ?
·        Apa Manfaat dari mengetahui asbabun nuzul ?

1.3  Tujuan
Mengetahui sebab-sebab dan alasan turunnya ayat al-Qur’an dengan mengetahui asbabun nuzul sebuah ayat tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1    Pengertian Asbabun Nuzul
Secara etimologis asbab al nuzul terdiri dari kata “asbab” (bentuk pluraldari kata “sabab”) yang mempunyai arti latar belakang, alasan atau sebab/illat (Almunawwir,1997:602), sedang kata “nuzul” berasal dari kata “nazala” yang berarti turun (Al munawwir,1997:1409).
Menurut Al-Ghazali “Nuzul” adalah perpindahan sesuatu dari posisi tertinggi ke posisi yang rendah. Dengan demikian asbab al nuzul adalah suatu konsep, teori, atau berita tentang sebab-sebab turunnya wahyu tertentu dari Al-Qur’an kepada nabi Muhammad, baik berupa satu ayat maupun rangkaian ayat. Asbabun Nuzul sebagai suatu hal yang karenanya al-Qur’an diturunkan menerangkan  status hukumnya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan
Para ahli berpendapat bahwa berkaitan dengan latar belakang turunnya, ayat-ayat Al Qur’an turun dengan dua cara[3]. Pertama, sebuah ayat turun ketika terjadi sebuah peristiwa, sebagaimana yang diriwayatkan Ibn Abbas tentang perintah Allah kepada Nabi SAW untuk memperingatkan kerabat dekatnya. Lalu, Nabi SAW naik ke bukit shafa dan memperingatkan kaum kerabatnya dengan berseru: “Bagaimana pendapat kalian, seandainya aku beritahu bahwa musuh akan datang besok atau petan, apakah kalian percaya kepadaku?”. Kaum Quraisy menjawab: “Pasti kami percaya”. Rasulullah bersabda: “Aku peringatkan kalian bahwa siksa Allah yang dahsyat akan datang”. Ketika itu, Abu Lahab berkata: Celakalah engkau! Apakah engkau mengumpulkan kami hanya untuk urusan ini? Lalu, ia berdiri, dan turunlah Surat Al-Lahab.
ﺘﺑﺖ ﻴﺪﺍ ﺍﺑﻲ ﻠﻬﺏ ﻭﺘﺏ ۞ ﻣﺎ ﺍﻏﻨﻰ ﻋﻨﻪ ﻣﺎﻠﻪ ﻭﻣﺎ ﻜﺴﺏ ۞ ﺴﻴﺻﻠﻰ ﻨﺎﺮﺍ ﺬﺍﺖ ﻠﻬﺏ ۞ ﻮﺍﻤﺮﺍ ﺘﻪ ۗ ﺤﻤﺎ ﻠﺔ ﺍﻠﺤﻁﺏ ۞ ﻓﻰ ﺠﻴﺪﻫﺎ ﺤﺒﻝ ﻤﻥ ﻤﺴﺩ۞
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.
            Surat ini melukiskan bahwa kecelakaan itu akan menimpa orang yang memfitnah dan menghalang-halangi agama Allah serta menyebarkan permusuhan trerhadap Islam akan mendapat siksaan Allah.
Kedua, sebuah ayat turun bila Rasulullah SAW ditanya tentang sesuatu hal untuk menjawab pertanyaan itu, turunlah ayat al-Qur’an yang menerangkan hukumnya untuk menjawab pertanyaan tersebut.

2.2    Manfaat Mengetahui Asbabun Nuzul
 Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia dalam menghadapi berbagai situasi – kondisi dan persoalan hidup. Asbabun Nuzul mempunyai arti yang sangat penting dalam upaya penafsiran al-Qur’an.
 Untuk menafsirkan qur’an ilmu asbabun nuzul sangat diperlukan sekali, sehingga ada pihak yang mengkhususkan diri dalam pembahasan dalam bidang ini, yaitu yang terkenal diantaranya ialah Ali bin madani, guru bukhari, al-wahidi , al-ja’bar , yang meringkaskan kitab al-wahidi dengan menghilangkan isnad-isnadnya, tanpa menambahkan sesuatu, syikhul islam ibn hajar yang mengarang satu kitab mengenai asbabun nuzul.
 Pedoman dasar para ulama’ dalam mengetahui asbabun nuzul ialah riwayat shahih yang berasal dari rasulullah atau dari sahabat. Al-wahidi mengatakan bahwa tidak halal berpendapat mengenai asbabun nuzul, kecuali dengan berdasarkan pada riwayat atau mendengar langsung dari orang-orang yang menyaksikkan turunnya, mengetahui sebab-sebabnya dan membahas tentang pengertian secara bersungguh-sungguh dalam mencarinya.
 Pemahaman asbabun nuzul akan sangat membantu seseorang ketika ia berupaya keras memahami konteks turunnya. Pemahaman terhadap asbabun nuzul ini dipasang sangat penting karena orang yang emahaman terhadap asbabun nuzul ini dipasang sangat penting karena orang yang sudah memahaminya akan dengan mudah bisa menerapkan ayat-ayat tersebut pada kasus dan kesempatan yang berbeda. Peluang terjadinya kekeliruan akan semakin besar jika mengabaikan riwayat asbabun nuzul.
 Contoh menarik yang harus menjadi perhatian adalah bahwa seseorang bisa sampai pada kesimpulan bahwa shalat tidak harus menghadap kiblat dan boleh menghadap ke tempat lain dengan merujuk surat al-Baqarah (2) ayat 115.
ﺴﺒﺢ ﷲ ﻤﺎ ﻓﻰ ﺍﻟﺴﻤﻭﺖ ﻭﺍﻷﺮﺾ ۖ  ﻭﻫﻭ ﺍﻟﻌﺯﻴﺯ ﺍﻟﺤﻜﻴﻡ
Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Kemana pun kamu menghadap disitulah wajah Allah. Sungguh Allah Mahaluas (rahmat-Nya) lagi Mahatahu.
Ayat ini turun berkenaan dengan kasus sekelompok musafir yang melaksanakan shalat di malam yang gelap gulita sehingga mereka tidak tahu arah kiblat secara pasti. Lalu, mereka menghadap ke arah yang berbeda-beda. Masalah ini kemudian diajukan kepada Rasulullah SAW. Tentu saja Rasulullah tidak bisa menjawab, kecuali setelah ayat di atas diturunkan Allah.
Memahami asbabun nuzul dengan baik, akan memberi manfaat:
1.  Mengetahui hikmah dan rahasia diundangkannya sebuah hukum dan perhatian syariat terhadap kepentingan umum tanpa membedakan etnik, jenis kelamin, dan agama. Proses penetapan hukum berlangsung secara manusiawi. Misalnya, penghapusan minuman keras. Dalam hal ini ayat-ayat al-Qur’an diturunkan dilakukan empat kali tahapan. (QS. An-Nahl: 67, al-Baqarah: 219, an-Nisa’: 43, dan al-Maidah: 158)
2. Mengetahui asbabun nuzul akan sangat membantu dalam mendapatkan kejelasan tentang beberapa ayat.
3. Pengetahuan asbabun  nuzul akan membantu seseorang untuk melakukan pengkhususan hukum terbatas pada sebab-sebab tertentu, terutama ulama yang menganut kaidah “sebab khusus”. Contoh, proses turunnya ayat-ayat zhihar pada permulaan Surat al-Mujadalah, tepatnya kasus Aus ibn ash-Shamit yang menzihar istrinya, Khaulah binti Hakam ibnu Tsa’labah. Hukum yang terkandung dalam ayat ini khusus bagi keduanya dan tidak berlaku bagi orang lain.
4.  Pemahaman asbabun nuzul dapat membantu seseorang lebih memahami apakah suatu ayat berlaku umum atau khusus, serta dalam hal apa ayat itu harus diterapkan.

2.3  Sebab turunnya ayat
       Sebab turunnya ayat dalam bentuk peristiwa ada empat macam, yaitu :
1. Disebabkan peristiwa pertengkaran. Contoh, peristiwa ini adalah perselisihan yang berkecamuk antara suku Aus dengan suku Khazraj. Perselisihan tersebut muncul dari intrik-intrik yang dihembuskan oleh kelompok Yahudi sehingga mereka berteriak; senjata! senjata! (perang! perang!) Peristiwa tersebut menyebabkan turunnya ayat 100 Surah Ali Imran:
ﻴﺎﻴﻬﺎ ﺍﻠﺫﻴﻦ ﺍﻤﻧﻭﺍ ﺍﻦ ﺘﻄﻴﻌﻭﺍ ﻓﺭﻴﻗﺎ ﻤﻦ ﺍﻠﺫﻴﻦ ﺍﻭﺘﻭﺍ ﺍﻠﻜﺘﺏ ﻴﺭﺪﻭ ﻜﻢ ﺒﻌﺪ ﺍﻴﻤﺎ ﻨﻜﻢ ﻜﻓﺭﻴﻦ ۞
       Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya meraka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir.

 2. Disebabkan peristiwa kesalahan yang serius. Contoh, seorang yang menjadi imam dalam shalat dan orang tersebut dalam keadaan mabuk. Sehingga orang tersebut salah membaca surat al Kafirun. Sehingga turunnya surat An Nisaa’ ayat 43 yang melarang orang mengerjakan sholat ketika mabuk, ayat tersebut berbunyi :
ﻴﺎﻴﻬﺎ ﺍﻠﺬﻴﻦ ﺍﻤﻧﻭﺍ ﻻ ﺘﻗﺭﺑﻭﺍ ﺍﻠﺼﻠﻭﺓ ﻭﺍﻧﺗﻡ ﺴﻛﺎﺭﻯ ﺤﺘﻰ ﺗﻌﻠﻤﻮﺍ ﻤﺎ ﺘﻗﻮﻠﻮﻦ ۰۰۰۰
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghampiri (mengerjakan) sholat sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.    

 3. Pemahaman asbabun nuzul akan membantu seseorang untuk melakukan pengkhususan hukum terbatas pada sebab-sebab tertentu, terutama ulama yang menganut kaidah “sebab khusus”. Contoh, proses turunnya ayat-ayat zhihar pada permulaan Surat al-Mujadalah, tepatnya kasus Aus ibn ash-Shamit yang menzhihar istrinya, Khaulah bint Hakam ibn Tsa’labah. Hukum yang terkandung dalam ayat – ayat ini khusus bagi keduanya dan tidak berlaku bagi orang lain.
 4. Pemahaman asbabun nuzul dapat membantu seseorang yang lebih memahami apakah suatu ayat yang berlaku umum atau khusus, serta dalam hal apa ayat itu harus diterapkan. Maksud sesungguhnya dari sebuah ayat dapat dipahami melalui pengenalan asbabun nuzul.

2.4  Jenis Riwayat Asbabun Nuzul
 Riwayat-riwayat asbabun nuzul dapat digolongkan dalam dua katagori: riwayat-riwayat pasti-tegas, dan riwayat-riwayat yang tidak pasti. Katagori pertama, riwayat-riwayat pasti-tegas, para periwayat dengan tegas menunjukkan peristiwa yang diriwayatkan benar-benar terkait erat dengan asbabun nuzul riwayat itu. Katagori kedua, mumkin, para periwayat tidak menceritakan dengan jelas peristiwa yang diriwayatkannya terkait erat dengan asbabun nuzul, tetapi hanya menjelaskan kemungkinan-kemungkinannya.
Contoh tentang turunnya suatu ayat :
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Salman bertanya kepada Nabi SAW tentang penganut agama yang pernah ia anut bersama mereka. Kemudian ia menerangkan cara shalat dan ibadahnya. Maka turunnya ayat al-Baqarah (2) ayat 62 :
ﺍﻦ ﺍﻠﺬ ﻴﻦ ﺍﻤﻨﻮ ﻮﺍﻠﺬ ﻴﻦ ﻫﺎ ﺪﻮﺍ ﻮﺍﻠﻨﺻﺮﻯ ﻮﺍﻠﺻﺎ ﺑﺋﻴﻦ ﻤﻦ ﺍﻤﻦ ﺑﺎ ﷲ ﻮﺍﻠﻴﻮﻡ ﺍﻻ ﺨﺭ ﻮﻋﻤﻞ ﺼﺎﻠﺤﺎ ﻓﻠﻬﻡ ﺍﺠﺭﻫﻡ ﻋﻧﺪ ﺭﺑﻬﻡ ۚ ﻭﻻﺨﻭﻑ ﻋﻠﻴﻬﻡ ﻭﻻ ﻫﻡ ﻴﺤﺯﻧﻭﻦ ۞
Sesungguhnya orang – orang Mukmin, orang – orang Yahudi, orang – orang Nasrani, dan orang – orang Shabi-in, siapa saja di antara mereka yang benar – benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal shaleh, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
                                                                                                      (Q.S. Al-Baqarah (2) : 62)
Maka, dalam riwayat lain dijelaskan ketika Salman menceritakan kepada Rasulullah SAW kisah teman-temannya, maka Nabi SAW. bersabda: “Mereka di neraka” Salman berkata :”Seolah-olah gelap gulitalah bumi bagiku. Akan tetapi setelah turun ayat ini (Q.S. Al-Baqarah (2):62), seolah-olah terang benderang duania bagiku. ”
 BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Secara etimologis asbab al nuzul terdiri dari kata “asbab” (bentuk pluraldari kata “sabab”) yang mempunyai arti latar belakang, alasan atau sebab/illat (Almunawwir,1997:602), sedang kata “nuzul” berasal dari kata “nazala” yang berarti turun (Al munawwir,1997:1409).
Asbabun Nuzul sebagai suatu hal yang karenanya al-Qur’an diturunkan menerangkan  status hukumnya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan
Memahami asbabun nuzul dengan baik, akan memberi manfaat:
1.  Mengetahui hikmah dan rahasia diundangkannya sebuah hukum dan perhatian syariat terhadap kepentingan umum tanpa membedakan etnik, jenis kelamin, dan agama. Proses penetapan hukum berlangsung secara manusiawi. Misalnya, penghapusan minuman keras. Dalam hal ini ayat-ayat al-Qur’an diturunkan dilakukan empat kali tahapan. (QS. An-Nahl: 67, al-Baqarah: 219, an-Nisa’: 43, dan al-Maidah: 158)
2. Mengetahui asbabun nuzul akan sangat membantu dalam mendapatkan kejelasan tentang beberapa ayat.
3. Pengetahuan asbabun  nuzul akan membantu seseorang untuk melakukan pengkhususan hukum terbatas pada sebab-sebab tertentu, terutama ulama yang menganut kaidah “sebab khusus”. Contoh, proses turunnya ayat-ayat zhihar pada permulaan Surat al-Mujadalah, tepatnya kasus Aus ibn ash-Shamit yang menzihar istrinya, Khaulah binti Hakam ibnu Tsa’labah. Hukum yang terkandung dalam ayat ini khusus bagi keduanya dan tidak berlaku bagi orang lain.
4.  Pemahaman asbabun nuzul dapat membantu seseorang lebih memahami apakah suatu ayat berlaku umum atau khusus, serta dalam hal apa ayat itu harus diterapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Ma’rifat, Hadi. 2007. Sejarah Al-Qur’an. Jakarta : Al Huda
Anwar, Abu. 2002. Ulumul Quran Sebuah Pengantar. ...........: Amzah
Izzan, Ahmad. 2009. Ulumul Qur’an Telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas Al-Qur’an Bandung : Tafakur
H.A.A. Dahlan, Shaleh, dkk. 2007. Asbabun Nuzul Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al-Qur’an. Bandung: CV Penerbit Diponegoro.


[1] Hadi Ma’rifat, Sejarah Al-Qur’an (Jakarta: Al Huda, 2007), 95
[2] A. Mudjab Mahali, Asbabun Nuzul Studi Pendalaman Al-Qu’an 2 (Jakarta: Rajawali Press, 1989), vii - viii
[3]  Ahmad Izzan, Ulumul Qur’an Telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas Al-Qur’an (Bandung : Tafakur, 2009), 181